Minggu, 20 Oktober 1996, pria berawakan kurus dan tinggi ini dilahirkan. Beliau terlahir dari kedua orangtua yang sangat hebat, mereka adalah Bpk. Warni dan Ibu Rochmawar. Dengan penuh kesabaran dan ketekunan mereka berdua mendidiknya agar selalu menjadi manusia yang bermanfaat untuk umat dan bangsa.
Terlahir dari keluarga yang berlatar belakang pendidikan agama, sejak kecil dirinya sudah digembleng dengan pendidikan agama yang cukup luas, seperti tata cara sholat, membaca al-Qur'an dan lain sebagainya. Pendidikan itulah yang membuatnya memiliki keinginan besar untuk lebih dalam mempelajari agama.
dari situlah kedua orangtuanya memilih SDIT Cordova untuk pendidikan dasar anak mereka, setelah mengukir banyak sejarah di sekolah itu selama enam tahun, Ia pun dengan yakinnya meminta kepada kedua orangtuanya untuk bisa melanjutkan pendidikannya di pesantren, karena orangtuanya melihat anaknya masih sangat kecil, jadilah untuk pembelajaran ia dimasukan di Pondok Pesantren Nabil Husein Samarinda.
Setelah tiga tahun berlalu, ia merasa semakin haus akan ilmu agama, maka dengan penuh harapan ia meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikannya di salah satu pesantren yang berada di daerah jawa timur.
Dan akhirnya dengan rasa berat hati mereka melepaskan anak bungsunya dari 3 bersaudara ini untuk melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Darulullughah Wada'wah, di sinilah ia mendapatakan jiwanya.
Di sinilah ia mempelajari makna kehidupan, dari tempat ini ia belajar bahwa kehidupan itu bagai seorang musafir yang selalu bersafar dan tujuannya adalah kebahagiaan di akhirat, dengan mengumpulkan segala bekal yang ada di perjalanan maka sang musafir akan sampai kepada apa yang ia tuju.


Selama mata ini masih bisa memandang sejuknya wajahmu
Selama tangan ini masih bisa melukiskan eloknya pesonamu
Selama hati ini masih bisa merasakan getaran cintamu
Aku tak akan pernah berhenti untuk selalu mengagumi keanggunanmu

Aku mengerti akan ada pergi setelah datang
Aku mengerti akan ada bulan setelah matahari
dan aku juga  mengerti selalu ada kesedihan di balik kebahagiaan
tapi satu yang selalu aku tak mengerti
sampai kapan aku selalu di balik pohon ini hanya untuk memperhatikanmu

Andai saja tuhan merestuiku
Andai saja kakiku ini tidak seperti batu ketika aku ingin menghampirimu
Dan andai saja mulut ini tidak dingin seperti es ketika aku ingin memanggil
Tapi apa daya.. aku hanya bisa berandai-andai ketika jauh di sampingmu
Semua kekuatanku hilang bak diterjang badai besar
Akupun hanya bisa mengungkapan rasa ini lewat angin yang mampir ke tubuhku
Aku sayang kepadamu wahai tulang rusukku
meski kau tak tahu itu.

Tapi memang sudah takdirku
Tuk menjadi sesuatu yang tak dapat kau peluk
Tuk menjadi sesuatu yang tak pernah kau rindu

Aku hanya ingin kau tahu
Bahwa aku mencintaimu dan akan selau menyayangimu
Walau tak mungkin bagimu tuk berbalik dan menatap mata ku


(Tulisan ini pernah dimuat di buku antologi puisi Secret Admirer 2014)